Apa artinya menjadi orang Indonesia?

Hatiku tersentak. Aku baru sadar akan ketidaktahuanku tentang bangsaku sendiri. Setahu apa aku dengan Ibu pertiwi yang membesarkanku hingga usia remaja? Aku tak tahu bagaimana kehidupan orang-orang Indonesia umumnya. Jikalau pun aku sedikit tahu, itu pun hanya sebatas kandang tempat lahirku, Jakarta. Memang susah hidup tak pernah berkunjung ke kota lain. Kalaupun pernah aku pun tak pernah mencoba mengerti kehidupan orang asli sana. Ke sana hanya untuk berwisata mengisi waktu liburan.

Aku pun sudah lama tinggal di tanah orang. “Untuk hidup yang lebih baik…” itulah kata-kata jimat yang sering diutarakan teman-teman dan keluargaku. Melihat keadaan pendidikan negeri sendiri, pantas rasanya ucapan itu menyelami nalar manusia. Kebangsaanku, sesuatu yang diperjuangkan ribuan orang seabad lalu pun hanyalah menjadi sebuah kata pengisi kartu identitas. Darah para pahlawan tak bernama itu hanya menjadi tinta cetak di atas lembaran-lembaran kartu.

Kembali ke pertanyaan yang menggugah hati itu. Aku merasa tidak pernah diajarkan untuk mengetahui bangsaku sendiri. Tak dari orangtuaku, tak juga dari sekolahku. Sistem pembelajaran kebanyakan orang Indonesia pun hanya mengacu pada bidang yang dianggap terpandang: ilmu alam, matematika dan bahasa Inggris. Murid-murid yang tangkas menjawab soal-soal mengenai ilmu tersebut pun dicap pintar dan dianggap sukses di masa depan. Sebaliknya, pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan dianggap kelas dua. Apalah arti mengerti tata negara dan sejarah bangsa ini? Belajar pun hanya untuk lulus dan mendapatkan nilai mendekati sepuluh di rapor akhir sekolah. Sungguh miris rasanya melihat hal ini. Perjuangan para pahlawan di masa lampau, penderitaan orang di bawah penjajahan serta seluk-beluk  kekayaan dan keragaman dari tradisi bangsa ini hanya dihargai beberapa kalimat di buku-buku cetak sekolah. Dipelajari pun tidak. Hanya diingat sementara untuk dituliskan di kertas ujian di kemudian hari.

 

Pandangannya hanya 1 bulan ke depan dan 20 tahun ke belakang

 

Alangkah baiknya jika kita diajarkan sejarah bangsa sendiri. Kehidupan dan nilai-nilai para pahlawan pejuang tanah air layak diserapi dan diketahui anak-anak yang menikmati hasil perjuangan mereka. Layak rasanya mereka mendapat tempat di hati dan pikiran kita sekecil apapun dan tak hanya untuk mengisi lembaran-lembaran uang semata. Kejadian-kejadian masa lampau pun tak kalah ajaibnya. Aku tak habis pikir bagaimana caranya para pemuda dari pulau berbeda bisa bersepakat untuk mendeklarasikan sumpah pemuda. Semangat mereka bisa melewati paparan gunung, bentangan laut, dan jajahan kompeni. Sayang seribu sayang, semangat mereka yang kuat melawan alam pun harus padam di tangan bangsa sendiri. Sumpah pemuda hanya menjadi seonggok kata-kata tak berarti dan maknanya tak diresapi. Memang miris nasib anak muda seperti aku sekarang. Pandangannya hanya 1 bulan ke depan dan 20 tahun ke belakang. Lebih depan berkabut tak menentu, lebih belakang gelap gulita. Masa depan aku tak tahu, masa lampau aku buta. Bagaimana aku bisa menjadi orang Indonesia tanpa mengetahui cerita-ceritanya?

Aku merasa bagai pohon tak berakar, mudah goyang dihembus angin. Di zaman sekarang, semua orang tampak mengelu-elukan nilai-nilai Barat yang mengedepankan nalar dan teknologi. Tak ada salahnya bagiku, toh semua itu akhirnya membantu peradaban manusia. Orang-orang pun ingin terbang bersama arus modernisasi. Tujuannya tak lain dan tak bukan ialah nilai-nilai budaya Barat. Hal ini pun kurasa tak lepas dari sejarah bangsaku sendiri. Memang mungkin beginilah nasib bangsa bekas dijajah berabad-abad. Selalu melihat bangsa lain lebih dari bangsanya sendiri. Belanda datang membawa ilmu pengetahuan hasil perasan otak para ilmuwan Eropa. Ilmu itu pun diagung-agungkan dan disebarkan melalui sekolah rakyat. Ilmu luar itu datang layaknya orang yang membawa kemeja ke tempat berkebaya, dianggap modern dan lebih baik. Padahal hakikatnya dua-duanya sama-sama menutupi tubuh. Dari manakah kita tahu mana yang lebih baik dan buruk?

Di manakah nilai Indonesia yang terkenal hingga mancanegara itu? Atau lebih tepatnya, apa nilai-nilai itu? Aku pun mengerutkan dahi saat mencari jawaban itu. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah di saat aku kecil pun sepertinya hanya hidup diantara lembaran-lembaran buku. Keramahan, murah senyum, tenggang rasa, atau apalah itu, hanya menjadi kata-kata kebajikan yang enak didengar. Di manakah keramahan itu jikalau semua orang curiga? Apa itu murah senyum jika semua orang malas menarik muka? Di manakah tenggang rasa itu jikalau hati kita masih panas melihat perbedaan? Miris memang rasanya melihat nilai-nilai yang mengedepankan diri sendiri mulai membaur dan perlahan-lahan menggantikan nilai santun yang katanya bangsa kita punya. Bagaimana aku bisa menjadi orang Indonesia tanpa mengetahui dan menyerapi nilai-nilai kebajikannya?

 

Di saat banjir nilai budaya barat datang menyapu semua daratan di Indonesia, apakah seribu bahasa ibu kita akan  bertahan?

 

Memang Internet dan ombak globalisasi yang datang menggulung-gulung sukar untuk dihindari. Bahasa Inggris pun dianggap modern dan dianggap sebuah kunci untuk masa depan yang lebih cerah. Kuingat jelas paksaan orang tuaku untuk belajar bahasa seribu umat ini.  “Untuk hidup yang lebih baik…”. Namun, apa yang terjadi dengan bahasa leluhurku sendiri? Malu sekali rasanya aku tak menguasai bahasa nenek moyangku. Tak satu pun kata Tionghoa yang aku mengerti. Nenek moyangku hanya mewariskan aku gen tubuhku, tak lebih dari itu. Aku pun merinding bila membayangkan apa yang mungkin terjadi dengan bahasa-bahasa daerah di bumi pertiwi ini. Di saat banjir nilai budaya barat datang menyapu semua daratan di Indonesia, apakah seribu bahasa ibu kita akan  bertahan?

Belum lagi budaya kita. Aku pun tak tahu apakah budaya yang dianggap kuno itu bisa dinikmati anak cucuku di masa depan. Ataukah mereka sedang menggali kubur mereka sekarang dan perlahan-lahan menjadi budaya orang mati. Menjadi debu yang terhembus orang-orang yang mau terbang bersama arus modernisasi. Tradisi pun hanya diucapkan tanpa arti dan dilakukan tanpa diresapi. Legalistik. Itu bahasa modernnya yang aku yakin leluhurku tak tahu artinya tapi pasti sakit hati jika mereka mengerti. Kebijaksanaan yang tertuang di sana pun hanya menjadi serangkaian kata-kata pengisi waktu yang nilai-nilainya dimakan monster bernama efisiensi. Bagaimana aku bisa menjadi orang Indonesia jika aku tak tahu tradisi?

Burung yang terbang pun perlu kembali ke sarangnya. Sudah lama ia terbang mencoba menjelajahi dunia di luar naungan induknya. Sudah layak dan sepantasnya ia kembali dan belajar lebih dari induknya, toh mau ke mana lagi ia berlabuh. “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” ucap Soekarno kiranya seabad lalu. Jiwa raga dan semangat orang muda sudah dinilai besar oleh Bapak bangsaku sendiri. Selagi ragaku masih muda dan pikiranku masih tajam, kuatlah aku kiranya untuk mencari jawaban pertanyaan itu. Kiranya waktu hidupku cukup untuk mengenal lebih dalam tanah airku. Banyak burung terbang tak kembali melihat ladang subur di seberang sana. Tapi siapakah yang akan membantu burung di ladang induknya kalau bukan mereka yang sudah bisa terbang tinggi?

 


My heart snapped. Only now am I aware of my ignorance towards my own people. What do I know of the motherland that nursed me up until my youth? I do not know how Indonesians live in general. Even the little that I know is limited to the borders of my birthplace, Jakarta. What a hard life, never visiting other cities. Even when I did visit, I never bothered to understand the way of life of the natives there. I go there just to sightsee and pass the time during the holidays.

Long have I lived in a foreign soil. “For a better life…” is the charm that my fellow diaspora often utter. My family included. Looking at the state of our own country’s education, those words feel even more true to reason. My nationality, which thousands fought countless battles for a century ago, becomes nothing more than a filler word in the ID card. The blood of those nameless patriots amounted to nothing more than printer ink on stacks of cards.

Now back to the heart-stirring question. I feel that I was never taught to know my own people. Not from my parents nor my schools. The education system most Indonesian go through focuses on the fields considered worthy of global esteem: the sciences, mathematics, and English. The students who are good at answering problems in such fields are branded as ‘smart’ and ‘most likely to succeed in the future’. On the other hand, social and civic studies are considered second class. What meaning is there in knowing the structure and history of this country? Studying as nothing more than a means to get a near perfect score in the end-of-year report card. Such a heart-wrenching sight. The battles fought by the heroes of the past, the suffering under colonial rule, and the intricacies of the richness and diversity of this nation’s traditions are only worth a few sentences in textbooks. They’re not even considered worth studying, only memorized briefly to be regurgitated on exam papers the next day.

 

I know not of the future and am blind to the past. How can I be called an Indonesian when I do not know its stories?

 

How wonderful it would be if we were taught about our nation’s history. The lives and values of the patriotic heroes deserve to be known and incorporated by the children reaping the benefits of their efforts. The least we can do is give them recognition in our hearts and minds, however small, and not just use them to plaster paper money. The milestones of history are no less wondrous. I cannot imagine how young men and women from differing islands were able to come together and declare the Youth Pledge. Their spirits were able to overcome mountain ranges, oceanic expanses, and colonial rulers. What a shame that their strong passion, which once prevailed against natural obstacles, would die out in the hands of their own people. The Youth Pledge is relegated to nothing more but a meaningless chunk of words, its essence unappreciated. Indeed, how pitiful the lives of modern youth like me. Setting our sights only 1 month ahead and 20 years backwards. The distant future clouded in uncertainty, while the past pitch black. I know not of the future and am blind to the past. How can I be called an Indonesian when I do not know its stories?

I feel like a rootless tree, easily swayed by the wind. Nowadays, everyone seems to champion Western values that put emphasis on reason and technology. I see nothing wrong with that, after all they do help advance our civilization. People also want to flow with the currents of modernization. Their goal is, quite simply, those aforementioned Western values. My people are no exception. Perhaps such is the fate of a people once colonized for centuries. Always perceiving other nations as higher than their own. The Dutch came with the knowledge borne from the minds of European scientists. That knowledge was glorified and spread through the local schools. The foreign knowledge arrived akin to someone wearing a dress shirt to a kebaya setting. It is perceived as more modern and therefore better, though in essence they both serve the same purpose of covering one’s body. How can we know which is better or worse?

Where are those world-renowned Indonesian values? Or, more precisely, what exactly are those values? I furrowed my brows trying to find the answer. The values I were taught as a child felt like they were limited to the pages of a book. Graciousness, friendliness, tolerance, or whatnot, were nothing more than pleasant sounding virtuous words. Where is that graciousness when everyone is suspicious of each other? What is that friendliness if people won’t bother to smile? Where is that tolerance if our blood boils at the sight of our differences? How sad to see egoistic values slowly permeate and replace the so-called gracious values we are said to possess. How can I be Indonesian without knowing and internalizing its virtues?

 

When the flood of Westernization comes rushing across all of Indonesia, can our thousands of mother tongues survive?

 

The waves of globalization rolling in is hard to avoid. English is thought of as modern, the key to a brighter future. I remember clearly how my parents forced me to learn this language of the masses. “For a better life…” Yet, what happened to my own ancestral mother tongue? I am so ashamed to not understand the language of my forefathers. I know nary a single word of Chinese. My ancestors only left me their genes, no more. I shiver at the thought of what might happen to the regional languages and dialects of this land. When the flood of Westernization comes rushing across all of Indonesia, can our thousands of mother tongues survive?

That is to say nothing of our culture. Even I do not know if those cultures, considered outdated, will still be able to be enjoyed by my descendants. Are they digging their own graves now, slowly fading into the ways of a people long gone? Becoming dust swept away by those vying for modernization. Traditions are mentioned only in name and performed without meaning. Legalistic. That’s the modern term which I’m sure my ancestors won’t know, but will surely be heartbroken if they did. The wisdom of the ages reduced to a string of words used to fill up space, its meaning swallowed up by the monster known as efficiency. How can I be Indonesian if I don’t know its tradition?

Even a bird who flies away will need to return to its nest. Long has it flown, trying to explore the world beyond its home. It’s only fitting for it to return and learn more from its parents. “Give me 1000 old men, and I will uproot Mount Semeru. Give me 10 youths and I will surely shake the world” said Soekarno about a century ago. The body, soul, and spirit of a young person was valued highly by the father of my own nation. While my body is still young and my mind sharp, let me be strong enough to find the answer to that question. Let my lifetime be enough to know my homeland deeper. For who will help the birds in their home fields if not those who can fly high?

 


Max Kusnadi mencoba melukis hidup dengan kata-kata. Tapi sayangnya, menurutnya semesta terlalu indah hanya untuk dibaca. Selagi bisa, dia mengajak kita untuk membuka indra untuk menikmati kekayaan hidup yang tak ada habisnya.

Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Steven Gunawan

Featured image by Moe-tography on Flickr. CC BY-ND 2.0

Interested in writing? Have a story to share? Contact us at pinusmanusia@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s